Memulai Sebuah Tulisan
Januari lalu, aku bersama tiga redaksi FOEM (Friends On 'E Move) lainnya melangsungkan rapat. Siapa sangka? Itu rapat yang entah sudah berapa lama tidak diadakan dan itu memang rapat pertama yang pernah aku hadiri sejak sekitar empat bulan bergabung dengan ministry ini.
Jadi singkatnya, aku dianggap sebagai penulis termuda (ah, enggak terlalu terasa juga) diminta membuka sebuah rubik baru yang judulnya 'insight', di mana aku harus menulis artikel pendek (sekitar 300-400 kata) tentang apa saja menurut sudut pandangku sendiri (lagi-lagi karena dianggap yang termuda dan paling youth tentunya.) Hm.. Akhirnya, aku iyakan saja. Selagi masih bisa menulis dan memberikan yang terbaik kepada Tuhan, ya, kenapa tidak. Tapi, porsi ini rasanya kurang jelas. Katanya, aku tak harus menulis yang rohani karena untuk bagian ini sudah ada di mana-mana (toh, namanya juga gereja). Ini yang bikin bingung, namanya juga buletin gereja, minimal (bagiku) yah harus membangun aspek kerohanian atau minimal mencerdaskan pribadi kita sebagai mahluk Tuhan lah.
Akhirnya, seperti biasa: kami sibuk. Di kedua edisi setelah rapat itu pun tidak ada perubahan besar. Paling yang mudah saja: ganti layout dan sekarang ada DUDU (yang sejak edisi terakhir, aku usul diganti pakai sistem sms saja biar gampang dan nggak ketinggalan jaman.) Tapi sekarang, aku pelan-pelan mencoba menggarap topik dan arahan rubik 'insight' itu. Jadi ingat eseinya Ayu Utami dalam bukunya yang ketiga (dua buku sebelumnya itu novel.) Gaya menulisnya enak, santai, lugas dan humoris. Ya.. Sebenarnya aku gemar sekali sama dia, jadi mungkin agak terpengaruh sama gaya menulisnya. Tapi pastinya sudah dan terus aku olah lagi dan disesuaikan dengan diri sendiri dan kebutuhan. Hehehe.
Puji Tuhan, aku dapat beberapa topik untuk 'insight' ini. Rencananya, aku bakal membahas tentang general issue kayak persahabatan, sekolah, hidup, dan lain-lain (yang kedengarannya memang basi tapi sangat bersaing buat selalu ngomong beda.) Menariknya, aku coba menulis dengan sudut pandang sendiri (seperti yang diminta. Ini susahnya. Bagaimana pun jangan meanggap diri sendiri pintar.) Semoga personal sense-ku bisa jadi efektif. Tentunya aku juga minta tuntunan Tuhan sebenuhnya. Visinya personally yah cuma satu: mencerdaskan anak-anak muda sebagai manusia (milik dan dari) Tuhan.
Masalahnya, yang tertarik bagiku, biasanya jarang bisa menarik buat orang lain. Apa yang saya suka? Seni pastinya, beserta cabang-cabangnya: musik (jarang ada yg pop jadinya, apa lagi hiphop, rap atau r&b,) seni rupa dan segala turunannya (menggambar, melukis, memahat, instalasi, dan lain-lain,) dan puisi. Terserah aku mau dibilang unik (boleh) atau mungkin 'aneh di kelasnya' (boleh juga.)
Apa lagi? Kalian boleh tanya pertanyaan yang umum (yang nggak pake mikir) seperti: "Suka artis Hollywood yang mana?" Atau "Eh, tau band itu nggak? Lagi ngetop loh!" Pasti jawabannya: "Wah, gue enggak gitu tau deh.." Kasus lain, kalau aku yang tanya: "Eh, kenal Fourplay, enggak? Personilnya musisi senior jazz dunia semua loh dan mereka udah punya 10 album!" Jawabnya: "Gue, gak tau tuh.." Itu dia. Tentu bukan salah tanya orang; mereka itu juga yang ngakunya dengar lagu jazz.
Disamping itu, terus terang, stamina menulisku tak begitu kuat dalam bahasa inggris. Jadinya biar dengan bahasa Indonesia saja. Bagaimana pun ini gereja Indonesia. Walau aku tidak menutup kemungkinan untuk lebih berbahasa inggris nantinya supaya tidak membatasi pembaca juga. Rasanya, ya, ditunggu saja. Hehehe. Dijamin, Tuhan bekerja.
p.s.
Kalau mungkin ada yang tanya: kenapa harus pakai 'aku-kamu' sih bahasanya? Percayalah, anda akan terlihat lebih cerdas (disesuaikan dengan visi) ketika ngomong pakai 'aku-kamu' ketimbang pakai 'gue-elu' (kecuali kalau kalian sepasang kekasih, kaku banget deh rasanya.)
Jadi singkatnya, aku dianggap sebagai penulis termuda (ah, enggak terlalu terasa juga) diminta membuka sebuah rubik baru yang judulnya 'insight', di mana aku harus menulis artikel pendek (sekitar 300-400 kata) tentang apa saja menurut sudut pandangku sendiri (lagi-lagi karena dianggap yang termuda dan paling youth tentunya.) Hm.. Akhirnya, aku iyakan saja. Selagi masih bisa menulis dan memberikan yang terbaik kepada Tuhan, ya, kenapa tidak. Tapi, porsi ini rasanya kurang jelas. Katanya, aku tak harus menulis yang rohani karena untuk bagian ini sudah ada di mana-mana (toh, namanya juga gereja). Ini yang bikin bingung, namanya juga buletin gereja, minimal (bagiku) yah harus membangun aspek kerohanian atau minimal mencerdaskan pribadi kita sebagai mahluk Tuhan lah.
Akhirnya, seperti biasa: kami sibuk. Di kedua edisi setelah rapat itu pun tidak ada perubahan besar. Paling yang mudah saja: ganti layout dan sekarang ada DUDU (yang sejak edisi terakhir, aku usul diganti pakai sistem sms saja biar gampang dan nggak ketinggalan jaman.) Tapi sekarang, aku pelan-pelan mencoba menggarap topik dan arahan rubik 'insight' itu. Jadi ingat eseinya Ayu Utami dalam bukunya yang ketiga (dua buku sebelumnya itu novel.) Gaya menulisnya enak, santai, lugas dan humoris. Ya.. Sebenarnya aku gemar sekali sama dia, jadi mungkin agak terpengaruh sama gaya menulisnya. Tapi pastinya sudah dan terus aku olah lagi dan disesuaikan dengan diri sendiri dan kebutuhan. Hehehe.
Puji Tuhan, aku dapat beberapa topik untuk 'insight' ini. Rencananya, aku bakal membahas tentang general issue kayak persahabatan, sekolah, hidup, dan lain-lain (yang kedengarannya memang basi tapi sangat bersaing buat selalu ngomong beda.) Menariknya, aku coba menulis dengan sudut pandang sendiri (seperti yang diminta. Ini susahnya. Bagaimana pun jangan meanggap diri sendiri pintar.) Semoga personal sense-ku bisa jadi efektif. Tentunya aku juga minta tuntunan Tuhan sebenuhnya. Visinya personally yah cuma satu: mencerdaskan anak-anak muda sebagai manusia (milik dan dari) Tuhan.
Masalahnya, yang tertarik bagiku, biasanya jarang bisa menarik buat orang lain. Apa yang saya suka? Seni pastinya, beserta cabang-cabangnya: musik (jarang ada yg pop jadinya, apa lagi hiphop, rap atau r&b,) seni rupa dan segala turunannya (menggambar, melukis, memahat, instalasi, dan lain-lain,) dan puisi. Terserah aku mau dibilang unik (boleh) atau mungkin 'aneh di kelasnya' (boleh juga.)
Apa lagi? Kalian boleh tanya pertanyaan yang umum (yang nggak pake mikir) seperti: "Suka artis Hollywood yang mana?" Atau "Eh, tau band itu nggak? Lagi ngetop loh!" Pasti jawabannya: "Wah, gue enggak gitu tau deh.." Kasus lain, kalau aku yang tanya: "Eh, kenal Fourplay, enggak? Personilnya musisi senior jazz dunia semua loh dan mereka udah punya 10 album!" Jawabnya: "Gue, gak tau tuh.." Itu dia. Tentu bukan salah tanya orang; mereka itu juga yang ngakunya dengar lagu jazz.
Disamping itu, terus terang, stamina menulisku tak begitu kuat dalam bahasa inggris. Jadinya biar dengan bahasa Indonesia saja. Bagaimana pun ini gereja Indonesia. Walau aku tidak menutup kemungkinan untuk lebih berbahasa inggris nantinya supaya tidak membatasi pembaca juga. Rasanya, ya, ditunggu saja. Hehehe. Dijamin, Tuhan bekerja.
p.s.
Kalau mungkin ada yang tanya: kenapa harus pakai 'aku-kamu' sih bahasanya? Percayalah, anda akan terlihat lebih cerdas (disesuaikan dengan visi) ketika ngomong pakai 'aku-kamu' ketimbang pakai 'gue-elu' (kecuali kalau kalian sepasang kekasih, kaku banget deh rasanya.)

0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home